Pakai Jilbab Dong

Jilbab merupakan syariat Allah yang diperuntukkan bagi muslimah. Jadi salah satu bentuk keimanan dan ketaatan kepada Allah adalah dengan mengenakan jilbab ini.
Dan untuk melatih anak saya (satu-satunya) yang perempuan, maka sejak masih balita saya sudah mengenalkan jilbab ini. Wajahnya yang bulat dengan pipi tembem jadi tambah imut dengan memakai jilbab. Awalnya susah sekali untuk membiasakan dia memakai jilbab. Pertama kali dipakaikan dia masih enjoy aja. Tapi kalau pas panas atau sedang di angkot yang penuh, biasanya dia akan menarik jilbabnya untuk dilepas. Kalau sudah begini, saya menyerah.

Waktu dia masih kecil, ada kejadian lucu. Waktu itu ia digendong sama Akungnya dan menggunakan jilbab biru (saya masih ingat warna jilbabnya :D) jalan-jalan di depan rumah. Jamaknya, yang menggunakan kerudung atau jilbab adalah anak perempuan. Tapi ada tetangga yang lewat tanya ke Akung (ayah saya).
Si nang apa si nok?
Lha, kami yang mendengarnya kontan senyum-senyum aja. Maklumlah. Jilbab atau kerudung belum ngetren saat itu.

Kemudian ketika sudah mulai besar, secara perlahan saya tetap menanamkan untuk memakai jilbab ketika keluar rumah. Khususnya kalau pas sedang pergi. Kalau sedang di rumah (tidak bepergian), saya masih memberikan kelonggaran untuk tidak mengenakannya.

Dan seiring berjalannya waktu, ia kini sudah terbiasa memakai jilbab. Tidak perlu disuruh-suruh lagi. Bahkan ia malu, bahkan marah, bila tahu-tahu pintu rumah dibuka, sedangkan ia sedang tidak mengenakan jilbab. Ia akan segera kabur menyelamatkan diri ke kamarnya.

Terkadang ada sih datang godaan. Suatu waktu pernah ia membuka jilbabnya gara-gara temannya di kampung sama-sama perempuan, ingin lihat rambutnya. Tapi setelah saya jelaskan, bahwa membuka jilbab di depan sesama perempuan itu boleh. Tapi tetap harus hati-hati, apalagi kalau membukanya di tempat umum (waktu itu di musholla) yang kemungkinan ada anak laki-laki lewat. Sejak itu ia tidak mengulanginya lagi.

Alhamdulillah, kebiasaan yang saya tanamkan telah berbuah. Ia termasuk anak yang istiqomah berbusana muslimah (jilbab) di antara teman-teman sekelasnya. Karena ternyata banyak juga teman-temannya sekelas yang tidak berjilbab ketika di luar sekolah. Hal ini saya tahu dari foto profil yang ada di facebook mereka. Juga beberapa kali saya pergoki mereka di jalan tanpa mengenakan kerudung.

Tidak seperti anak perempuan beberapa teman saya. Mereka terbiasa tidak memakai kerudung ketika di luar rumah. Ketika saya tanyakan hal ini, mereka (orang tuanya) menjawab: Kan masih kecil. Belum wajib menutup aurat (berjilbab). Nanti kalau sudah besar kan tahu sendiri. Dan sederet jawaban lainnya.

Saya sedih mendengar jawaban ini.
Bukankah semuanya berawal dari kebiasaan?
Dan kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan melekat lebih kuat?
Kalau sejak kecil saja tidak dibiasakan, bagaimana ia bisa terbiasa besar nanti?
Sama seperti halnya makan dengan tangan kanan. Kalau sedari kecil tidak dibiasakan, maka bisa jadi ia akan terbiasa makan dengan tangan kiri.

Untuk Anda (muslim/muslimah) yang memiliki anak perempuan, latihlah mereka mengenakan busana muslimah sedari kecil. Yakinlah. Itu adalah salah satu syariat Allah. Dan bila kita melaksanakannya, maka kita akan mendapat pahala. Melihat anak-anak dengan busana muslimah, bagi saya, terlihat lebih menyenangkan dan menjadi qurratu ‘aini (perhiasan mata) bagi kita.

Jadi ingat beberapa syair Nasidaria di tahun 80-an

Jilbab jilbab putih
Tanda kesucian

Dibalik jilbabmu
…….
Disepanjang jalan kulihat kamu…
Dengan jilbabmu meredam nafsu

Iklan

2 Comments Add yours

  1. dengan berjilbab hati jadi lebih tenang…..dan kebahagiaan hidup adalah ketenangan hati…semoga semua muslimah istiqomah untuk berjilbab…keep update yaa artikelnya..salam

  2. siTi halimatus.s berkata:

    Gimana kalo sudah besar gak cocok pkae jilbab, tpii dia ingin pkae jilbab ..gimna carax ya


    Maksudnya nggak cocok bagaimana ini?
    Jilbab yang mensyariatkan adalah Allah, manusia yang menciptakan Allah. Masak gak cocok. Tapi kalo cowok ya jelas gak bakalan cocok pake jilbab :D.

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s