Berkibar di Negeri Jiran

Namanya mungkin tak terlalu ramah di telinga kita. Namun di Malaysia, dia terbilang cukup disegani karena kemampuan ilmunya. Sejumlah penelitian penting dan hak paten telah ditorehkannya di negeri jiran itu.

Irwandi Jaswir, demikian nama lengkap pria asal Sumatra barat ini. Ilmuwan yang menyelesaikan program post doctoral di National Food Research Institute Tsubaka, Jepang, in sekarang menjabat associate professor di Departemen Teknik Bioteknologi Fakultas Teknik International Islamic University (IIU) Malaysia. Universitas yang memberikannya kebebasan untuk berkarya di bidang ilmu kimia dan biokimia pangan.

Berbekal pengetahuannya tentang analisis kandungan kelapa sawit saat penelitiannya meraih gelar doktoral, Irwandi terpanggil untuk membuat sistem yang bisa mendeteksi kandungan nonhalal atau lemak babi dalam bahan pangan. Gencarnya Pemerintah Malaysia kala itu untuk mendorong produk halal menjadi alasan lain penelitiannya.

Irwandi mulai meneliti sistem analisis dengan alat bernama FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy), alat yang digunakan dalam meneliti kandungan kelapa sawit. “Sebagai muslim saya merasa terpanggil. Saya tahu cara menganalisis kesegaran minyak sawit. Saya tahu detailnya, mestinya saya punya pengetahuan mendalami dan memanfaatkan pengetahuan saya untuk menciptakan sistem analisis nonhalal,” tuturnya.

Penelitian yang dimulai pada 2002 itu tidak sia-sia. Dua tahun bergelut di laboratorium, Irwandi menuai hasilnya. Namun hasil itu masih perlu validasi. Ribuan sampel diujicobakan di sistem yang ditelitinya bersama seorang temannya asal Malaysia.

Pada tahun 2005, sistem deteksi kandungan lemak babi mulai digunakan. Rupanya, temuan ini dinilai sebagai terobosan baru yang sangat berarti bagi kalangan ilmuwan ataupun industri pangan.

Temuan yang mampu mendeteksi kandungan nonhalal pada makanan ini kemudian diganjar penghargaan Gold Medal The 34th International Exhibition of Invention, New Techniques and Products di Jenewa, Swiss, pada 2006.

Ilmuwan kelahiran Padang, Sumatra Barat ini mengatakan, ilmu tidak memandang tempat ia berada. Selama bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak masalah. Begitu pula dengan keberadaannya di Malaysia sebagai peneliti. Ketika menjatuhkan pilihan pada Malaysia, Irwandi sebenarnya mendapat tawaran yang sama untuk menjadi peneliti di Vancoucer, Kanada.

Namun karena sudah familiar dengan Malaysia dan desakan keluarga jika tinggal di Vancouver terlalu jauh, Irwandi pun nyaman memilih Malaysia. Pertimbangan kuat lainnya, karena ia diberi kesempatan mengembangkan suatu jurusan baru di bidang pengembangan bioteknologi.

Di sisi lain, lembaga riset keilmuan di Indonesia sudang terbangun dan sulit dijalankan sesuai keinginan. Jenjang karier peneliti juga sangat ketat. “Di Malaysia kita bisa datang dan pergi. Misalnya, saya profesor di Malaysia. Tiba-tiba ingin masuk salah satu PTN di Indonesia, saya tak langsung dapat diakui sebagai profesor,” jelas Irwandi.

Sedangkan di tempat lain jika pindah, pasti ada promosi dan bukannya turun. Jika turun itu akan berdampak pada degradasi keilmuan atau demoralisasi.

Terkait persaingan dengan ilmuwan lain dari Malaysia, Irwandi mengaku tak ada masalah. Di IIU, dia diperlakukan sama. IIU berstandar internasional dengan dosen atau staf pengajar yang berasal dari 100 negara.

Irwandi hingga kini telah mematenkan Produksi Halal Nano-Materials melalui Proses Enzymatic di Malaysia pada 2009. dia pun mematenkan temuan New Method for Improving Solubilization and Uptake of Dietary Antiozidant in Human Hepatocellular Liver Carcinoma (HepG2) Cell Culture di Malaysia di tahun yang sama.

Sumber: Republika (23/12/10)

Iklan

3 Comments Add yours

  1. Kakang Prabu berkata:

    ini orang Indonesia?


    iya kang, orang sumatra barat, alumnus IPB

  2. omiyan berkata:

    ah sayang banget kenapa lagi-lagi orang yang pintar harus ada di luar ……….


    karena di Indonesia tidak butuh orang pintar beneran, yang dibutuhkan adalah orang pintar menipu, pintar cari muka, pintar cari popularitas, pintar ‘mengolah data’ dan pintar-pintaran yang lain

  3. Pencerah berkata:

    mangtafff
    semoga bisa menularkan ilkmunya di Indonesia


    amin

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s