Krisis Kuburan

Setiap makhluk hidup (manusia) membutuhkan tempat tinggal. Sesederhana atau sekecil apa pun, manusia butuh tempat berteduh. Bahkan ia menjadi salah satu kebutuhan pokok (pangan, sandang, dan papan). Meskipun ia hanya sepetak ruang yang dibatasi oleh empat dinding yang terbuat dari triplek atau kardus sekalipun. Meskipun ia bukanlah miliknya sendiri, sehingga sering disebut kontraktor. Setiap kita butuh dengan bangunan yang namanya r-u-m-a-h, rumah.

Namun, tahukah Anda ternyata bukan cuma yang hidup saja yang membutuhkan rumah. Yang mati pun tetap membutuhkan lahan untuk ‘tempat tinggal’. Sehingga yang hidup pun harus mulai memikirkan tentang rumah yang layak bagi saudaranya yang sudah meninggal.

Hal ini mulai terjadi di kota-kota besar, salah satunya Semarang. Kota kelahiranku. Dengan penduduk mencapai 1,5 juta jiwa, Semarang memerlukan 377,6 hektare untuk lahan pemakaman. Bahkan di beberapa tempat sudah terjadi penumpukan, 2 jenazah dikubur dalam 1 liang. (Kalau masih hidup disebut kos-kosan, 1 kamar untuk 2 orang). Suara Merdeka (23/12/10)

Terakhir ketika mengantar jenazah salah seorang keluarga, saya melihat betapa sesaknya pemakaman umum yang terletak di daerah Peterongan itu. Liang lahat itu dibuat di antara 2 nisan. Sehingga sangat sulit untuk memasukkan jenazah ke liang lahat.

Andai saja para jenazah itu bisa protes, tentu mereka akan mendemo kita yang masih hidup.

“Jangan tambah lagi jenazah di kuburan ini”

“Parkir Penuh”

“Kami juga punya hak”

“Kami menuntut referendum”

Mungkin itu tulisan yang akan mereka bawa, ketika berdemo.

Untuk itu, saat ini mungkin perlu pemecahan yang jitu untuk menangani masalah krisis makam ini. Yah jangan sampai mereka meluber ke jalan raya, atau di kolong-kolong jembatan gara-gara kuburan sudah penuh sesak.

Untuk menghemat tempat, mungkin kuburan akan dibuat bertingkat layaknya apartemen. Atau kuburan disusun seperti lift, sehingga ketika hendak takziyah atau nyekar kita tinggal pencet saja nomor ‘kamarnya’ dan jenazah akan disodorkan di depan mata, dalam lemari kaca tembus pandang.

Atau bisa jadi nanti kuburan tidak lagi seseram saat ini. Bahkan mungkin kuburan akan dihiasi dengan lampu warna-warni, ada kafenya. Atau biar merakyat ditambah warung sega kucing. Sukur-sukur ada hot spotnya :D.

Sedangkan untuk para borju dan yang punya duit, bisa dilengkapi dengan ruang karaoke plus layar lebar yang full AC. Kolam renang, swalayan, warnet, bandara.

Mohon maaf, kalau tulisan saya kali ini agak ngawur. Sebab setelah membaca koran tentang kurangnya area kuburan di Semarang, kok ingin nulis seperti ini. Namun yang namanya ide kan tidak ada salahnya bila diungkapkan. Daripada dipendam malah jadi jerawat. Makanya, kalau ingin komentar ya komentar saja. Daripada nanti malah jadi beban pikiran dan hutang. Karena siapa saja yang sudah membaca tulisan ini wajib untuk menuliskan komentar, kalau tidak akan berubah menjadi hutang dan akan saya tagih.

Dan tidak usah dipikir terlalu masak (nanti malah gosong), jangan khawatir tidak akan dikenai pajak, karena pajak komentar sudah saya tanggung. Atau bakalan kena delik hukum, karena hukum sekarang sedang ndelik (jw. bersembunyi).

Gambar saya cropping dari mcetak.suaramerdeka.com

Iklan

2 Comments Add yours

  1. marsudiyanto berkata:

    Untung cuman dilarang NGIJING…
    Tadi saya pikir tulisannya:
    KUBURAN PENUH
    DILARANG MATI 😀

  2. marsudiyanto berkata:

    Mbergota lebih muntel lagi Mas…
    Mungkin sudah saatnya dibikin MakSun…
    Makam Susun


    Mak Erot saja pak (MAKam Ekonomis, Ramah, Ongkos iriT) 😆

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s