Receh, Tapi Bukan Recehan

Gelap.

Saking gelapnya, sampai-sampai aku tak bisa melihat diriku sendiri.

Terikat.

Aku terikat dengan beberapa teman.

Terhimpit.

Kami berdesakan dalam ruang yang sempit ini. Saling tindih.

Kadang kulitku tergesek dengan kulit teman di sebelahku yang seperti parutan kelapa.

Aku tak tahu, bagaimana aku bisa berada di sini.

Tiba-tiba… CRIING!

Terdengar bunyi bel dan suara mesin. Dan seketika ruangan menjadi terang benderang. Aku memicingkan mata. Terdengar suara gaduh di sekitarku. Bukan. Bukan teman-temanku yang gaduh. Tapi orang-orang yang ada di luar ruangan tempat aku terkungkung.

Lalu.. hup.

Sebuah tangan menyentakku dari lamunan. Membebaskan dari ikatan. Dan memindahkan ke tangan orang lain bersama beberapa teman yang tadi berada dalam satu ikatan.

Aduh! Aku menjerit ketika tanpa sengaja aku jatuh dan bergulung-gulung di lantai. Dan sebuah tangan yang besar dan kasar kembali memegangku.

Kini aku kembali berada dalam suatu ruangan yang baru. Tapi tetap sama. Sempit dan gelap. Yang membuatku rindu dengan tempatku sebelumnya, karena di sini, ya ampun, bauuu banget. Seperti orang yang tidak mandi beberapa hari.

Kemudian terdengar suara mobil. Oh rupanya aku dibawa dalam sebuah mobil. Kami terguncang-guncang mengikuti gerakan mobil. Membuat kami harus jungkir balik. Kadang di atas, kadang di bawah terhimpit.

Tak berapa lama, suara mesin mobil sudah tak terdengar lagi. Digantikan dengan suara langkah-langkah kaki.

Lagi-lagi sebuah tangan meremasku, membuatku tak bisa bernafas. Lalu aku dilemparkan begitu saja di atas meja. Kepalaku membentur meja dan aku tak ingat apa-apa lagi. Gelap. Pingsan.

Saat kubuka mataku, aku tak tahuh berada di manakah sekarang ini. Tapi yang pasti ruangan di sini lebih lega dan terang. Juga lebih wangi.

Kuperhatikan sekeliling. Banyak sekali perabot yang tidak aku kenal nama dan fungsinya.

“Yah, aku ingin menyumbang untuk tante Prita. Boleh kan, Yah?” terdengar suara seorang gadis kecil.

“Boleh! Ambil saja uang yang ada di atas meja itu,” jawab ayahnya.

Gadis kecil itu berlari gembira. Ia mengambilku dari atas meja dan memasukkanku ke dalam tempat berbentuk ayam jago.

Tiap hari penghuni ayam jago semakin bertambah. Aku yang semula ada di atas menjadi berada di bawah. Namun kadang-kadang aku kembali berada di atas, ketika si empunya mengguncang-guncang ayam jago untuk mengetahui isinya.

 

Lalu pada suatu hari…

PYAR!

Tempatku berada telah pecah berkeping-keping. Aku dan teman-temanku keluar berhamburan. Namun tangan-tangan sigap segera mengumpulkan kami kembali. Kami dikumpulkan kembali dalam sebuah ruangan yang lebih luas. Dan satu lagi, teman-temanku lebih banyak jumlahnya. Aku tak bisa menghitungnya.

 

Hikmah:
Ini adalah kisah perjalanan uang receh (uang logam), yang sering diremehkan banyak orang. Uang receh bagi kita mungkin tiada artinya, karena jumlahnya sedikit. Namun bila uang receh tadi dikumpulkan, maka menjadi sesuatu yang menakjubkan.

Mungkin kita bertanya, apalah artinya uang receh?
Masih ingat uang Rp 500 yang disumbangkan untuk Prita Mulyasari? Saking banyaknya, harus menggunakan mesin dari Bank Indonesia untuk menghitungnya. Sayang hal ini hanya untuk satu momen saja. Bayangkan seandainya setiap bulan rakyat Indonesia melakukannya, maka bisa jadi rakyat tak perlu lagi ‘mengemis’ dana kesehatan kepada pemerintah. Juga tak kan ada rakyat yang merengek-rengek minta haknya kepada para pemimpin yang tambah tambun.

Kita sering menyepelekan hal-hal kecil. Padahal semua yang besar, berasal dari hal-hal yang kecil tadi. Tengoklah gunung Merapi dan Bromo yang berhasil meluluhlantakkan daerah sekitarnya. Ia adalah kumpulan pasir yang kecil.

Atau hujan yang terus mengguyur, yang menyebabkan banjir bandang, yang mampu meluluhlantakkan apa yang ada di hadapannya. Awalnya ia hanyalah setetes air.

Atau kita sering meremehkan hal-hal sepele. Seperti apalah artinya membuang sampah puntung rokok di jalan, toh kecil banget. Namun bila ada seribu orang yang membuang puntung rokok, maka akan dihasilkan sampah puntung rokok satu karung. Bagaimana kalau ada sejuta? Atau 10 juta orang?

Ingatlah kawan, hal-hal besar dimulai dari yang kecil. Dari hal kecil, dari diri kita sendiri.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

Iklan

6 Comments Add yours

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s