Penjara Orang Baik

Melihat berita dari hari ke hari membuat hati saya semakin miris. Hampir tiap hari, saya dan Anda tentunya akan disuguhi tentang darah dan air mata (serta air liur).

Penculikan dan penjualan anak di bawah umur kian menjadi.
Penghilangan nyawa orang lain seolah menjadi hal biasa.
Belum lagi bencana yang seolah tiada absen dari bumi tercinta ini.
Juga kadang kesal, melihat polah tingkah para pengayom republik ini yang terus mengumbar nafsunya.

Namun yang paling membuat saya miris adalah penculikan disertai penjualan atau pembunuhan anak perempuan khususnya. Lha iya, saya kan punya anak satu, perempuan lagi. Apalagi setelah peristiwa kemarin Selasa.

Sudah 2 minggu ini, dia ikut renang bersama teman-temannya yang les renang. Kalau anak saya sih tidak ikut les, jadi hanya pengen bareng saja. Dan agar lebih mudah dalam menjemput, dia saya suruh untuk menunggu di pintu gerbang.

Namun Selasa kemarin, waktu saya mau menjemput, saya tidak menjumpainya di pintu gerbang. Apa renangnya belum selesai, pikir saya. Maka istripun turun untuk menjemputnya di dalam.

Dan alangkah terkejutnya saya, ketika mendengar cerita darinya. Saya dengar dari istri, karena waktu itu saya sedang konsen dengan mengemudikan motor.

Waktu itu, selesai renang, seperti yang saya pesankan, ia menunggu di gerbang masuk. Saat itu ia bersama salah seorang temannya yang juga sedang menunggu jemputan. Dan selama masa menunggu itu, ada beberapa anak muda menghampiri keduanya. Nanya ini-itu. Tapi anak saya tidak menanggapinya, malah dia segera lari masuk kembali ke kolam renang. Kalau di dalam kolam renang ada beberapa orang tua yang ikut menunggu anaknya yang les renang, juga guru pendamping.

Ternyata tidak hanya sekali itu saja kejadiannya. Selama dia naik sepeda untuk berangkat ke sekolah, ia sering dibuntuti orang tak dikenal. Atau disapa dengan sapaan iseng.

Dari kejadian-kejadian tersebut, saya semakin khawatir ketika melepas anak pergi sendiri. Maka untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, untuk sementara ia tidak naik sepeda untuk berangkat ke sekolah, serta hal-hal preventif lainnya.

Beginilah akibatnya, ketika para pengayom yang seharusnya bertugas melindungi masyarakat, beralih tugas menjadi pemangsa masyarakat. Maka jumlah pemangsa (baca penjahat) otomatis akan semakin bertambah. Baik yang bersandal jepit, maupun yang bersepatu mengkilap. Yang berkaos oblong, sampai yang berjas keluaran penjahit ternama. Dari yang memakai sarung untuk menutup muka, sampai yang berseragam.

Kenapa ya, orang-orang baik (seperti saya dan Anda) harus merasa ‘terpenjara’ di lingkungannya sendiri. Hal ini tidak bisa dibiarkan. Sudah saatnya mengambil tindakan.

Iklan

One Comment Add yours

  1. Bung Eko berkata:

    Hahaha, negeri para penyamun, siapa tuh yang pernah bilang seperti itu. Sesuai sekali dengan kondisi Indonesia saat ini.


    negeri para penyamun, rakyatnya pada manyun..

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s