Countdown yang Bikin Kondor

Di Semarang dan beberapa kota, kini hampir di tiap lampu lalu lintas dipasangi countdown (penghitung mundur), khususnya di jalan-jalan utama.

Kalau sebelumnya para pengguna tidak tahu kapan lampu akan berubah warna, maka kini mereka akan tahu kapan harus mulai jalan atau kapan harus mulai melambatkan laju kendaraan.

Namun dasar orang Indonesia, countdown ini malah dijadikan sarana untuk memperlancar jalannya kendaraan masing-masing.

Ketika lampu lalin menyala merah, maka si kondon akan mulai menghitung mundur menuju lampu hijau. Dan saat detik-detik akhir, biasanya 10 detik sebelum lampu berubah jadi warna hijau, para pengendara secara pelan tapi pasti akan berjalan merangsek ke depan. Dan pas si kondon menunjukkan angka 0 (nol), maka mereka akan segera memacu kendaraannya sekencang-kencangnya (kalau bisa). Persis seperti para pembalap yang berlaga di Sentul.

Diakui atau tidak, kondon justru menimbulkan masalah baru. Para pengguna jalan jadi sering tidak taat aturan (termasuk saya, kadan-kadang), terutama saat-saat mendekati masa kritis (angka nol).

Dan sebetulnya, countdown juga bisa membawa musibah atau menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Khususnya ketika alat ini sedang terserang virus sejenis flu nyamuk (asal), sehingga ia tidak bisa menghitung secara benar.

Dan beberapa kali saya menerima akibatnya. Contohnya saja, ketika saya sedang melaju mendekati lampu lalin, saya lihat lampu masih menyala hijau dan si kondon masih menunjukkan angka 30. Maka saya terus saja berjalan melintas perempatan tersebut. Namun tiba-tiba ketika jaraknya tinggal 5 meteran, lampu menyala merah (tanpa warna kuning). Karuan saja saya segera menginjak rem dalam-dalam dan kuat-kuat. Alhamdulillahnya, baik di depan maupun belakang saya tidak ada kendaraan lain. Sehingga tidak sampai terjadi kecelakaan lalu lintas.

Lain lagi ketika si kondon berpikir lemot. Saya berada di barisan paling depan ketika lampu merah menyala. Dan seperti biasa, ketika memasuki hitungan ke-10, maka para pengendara akan sedikit demi sedikit merangsek ke depan. Dan ketika angka benar-benar menunjukkan angka nol, mereka langsung ngacir. Tapi ternyata kami salah perhitungan. Si kondon yang nggak pernah sekolah itu malah asik menghitung ulang dari angka 20 dengan warna lampu merah tetap menyala. Alhasil kami yang sudah terlanjur berjalan harus berhenti di tengah-tengah jalan, karena kendaraan dari arah lain masih berjalan (lampu bagian mereka masih menyala hijau).

Itulah ulah countdown yang kadang bikin kesel dan kesal, juga keki dan kaku hati.

Iklan

One Comment Add yours

  1. Kaget berkata:

    Bukan bermaksud menyindir saya kan?
    heheheh…. saya sering macu saat countdown -3 🙂


    bukan menyindir, tapi kebanyakan spt itu

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s