Beratnya Istiqamah

Dalam al Quran, ada beberapa ayat yang konon membuat rambut Rasulullah cepat memutih. Salah satunya adalah surat Huud (11) ayat 112.

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.”

Dalam ayat tersebut, Allah menyuruh Rasul-Nya (dan orang-orang beriman tentunya) untuk istiqomah. Istiqomah, mudah diucap namun susah untuk dipraktekkan. Maka, di penghujung Ramadhan ini, marilah kita merenung sejenak.

Kita telah lakukan dengan sukses puasa selama sebulan penuh. Dalam sebulan tersebut, kita mampu mengerem nafsu makan kita. Yang biasanya doyan makan, langsung mengurangi jatah makannya. Yang biasa jajan, jadi rajin menabung uang jajannya. Dan ternyata kita semua bisa melakukannya. Namun, bisakah kita istiqamah mengendalikan nafsu makan kita selepas Ramadhan ini. Karena yang biasanya terjadi adalah, euforia lebaran. Begitu lepas dari Ramadhan, seolah-olah kita terlahir sebagai orang yang baru. Orang baru yang telah puluhan tahun tidak ketemu makanan, maka begitu ada makanan semuanya diembat.

Dalam bulan Ramadhan, kita juga menjadi lebih rajin datang ke masjid, musholla, surau, langgar atau apapun namanya. Seolah ada magnet besar yang mampu menggerakkan kaki-kaki manusia untuk menuju kesana (Yang punya niatan lain selain beribadah, tidak terhitung dalam kategori ini). Meskipun, pada akhir-akhir Ramadhan biasanya kembali sepi peminat. Nah, bisakah kita istiqamah untuk bisa shalat berjamaah di masjid, musholla, surau, langgar atau apapun namanya. Ketika Allah memanggil kita untuk shalat, akankah kita langsung bersegera memenuhi undangannya, seperti yang kita lakukan saat sang bos hendak memberi THR? Ataukah kita akan kembali ke bentuk asli kita, selepas Ramadhan nanti. Shalat terletak diurutan terakhir agenda harian kita.

Di bulan Ramadhan, orang berubah menjadi orang-orang yang dermawan. Suka bersedekah, berinfak, memberi makan buka puasa kepada orang lain. Menyisihkan harta atau makanan untuk orang lain. Mampukah kita untuk bisa istiqamah menjaga komitmen ini, selepas Ramadhan nanti? Ataukah kita akan memperlihatkan sifat kita yang sesungguhnya yang cuek, pelit, kikir, bakhil, penuh perhitungan (masalah duit dan ongkos)?

Mari kita jaga ritme Ramadhan yang telah kita jalani, sebagai bekal kita menjalani 11 bulan yang akan datang, hingga kita berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan di tahun yang akan datang, jika Allah mengijinkan.

Iklan

One Comment Add yours

  1. harapanpastiada berkata:

    :)) semoga apa yang kita harapkan akan banyak membawa banyak manfaat. artikel yang sangat bagus, tdk lupa borkmark.dan saling berbagi adalah kergiatan yang paling indah.

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s