Industri Kematian

Industri kematian. Sebut saja begitu. Adakah? Ya. Hari ini kita menyaksikan begitu banyak mesin-mesin uang raksasa yang menjadikan kematian sebagai dagangan utamanya. Di jalan Cikande, Serang, Banten, dimana pabrik ekstasi terbesar ketiga di dunia digrebek polisi, adalah tempat dimana industri kematian dibangun dengan segala logikanya yang sangat mengerikan. Pabrik itu memproduksi berjuta-juta pil ekstasi, menjualnya dengan omset 100 miliar perminggu. Tetapi sejatinya ia tengah menjajakan kematian bagi orang-orang yang dengan senang membeli kematiannya sendiri, dengan uangnya sendiri.

Peredaran uang narkoba di negeri ini setiap tahunnya diduga bisa mencapai Rp 23 triliun. Itu jauh lebih besar dari anggaran Departemen PertahananIndonesiayang hanya Rp 21 triliun.

Bukan semata soal omsetnya yang sangat-sangat besar. Tapi juga jaminan keberlangsungan bagi industri itu. Jaminan itu adalah ketergantungan dan kecanduan dari para penikmat pil-pil itu. Ini menjadi semacam garansi life-time yang pasti, kuat, dan tanpa seupiah pun perlu biaya untuk gembar-gembor iklan.

Industri kematian kadang juga berdiri megah di tengah matinya jiwa social di tempat-tempat dimana empati dan kepedulian harusnya tumbuh subur, dunia kesehatan. Di propinsi Zhejiang Timur, seorang perempuan 47 tahun, You Guoying, hampir saja dikubur hidup-hidup. Keluarganya mengira ia sudah mati. Tapi bukan itu alasannya. Mereka sudah tak lagi bisa membayar biaya rumah sakit. Maka suami dan anaknya membawanya untuk dikremasi. Saat hendak dibakar, perempuan itu masih bergerak dan air matanya meleleh. Ia akhirnya selamat dari terpanggang hidup-hidup.

Tapi perempuan naas itu nyata-nyata bertarung melawan industri kematian sebelum bertarung dengan mesin pembakar mayat. Di banyak Negara, kesehatan telah menjadi industri. Pabrik obat yang menggurita bekerja sama dengan para dokter. Ini tidak saja soal uang yang sangat menjanjikan.

Obat dan alat teknologi kesehatan diciptakan tidak semuanya dengan spirit social. Maka menangislah mereka  yang tinggal yang biaya kesehatannya selangit, industri obatnya bermafia, dan basis penyembuhannya berdasarkan eksploitasi ketidaktahuan pasien di tengan keinginan sembuh yang manusiawi. Tapi sejatinya, ia mungkin tengah menangisi dirinya di depan sebuah industri kematian

Industri kematian kadang mendapat dukungan dari banyak pihak dengan caranya yang halus.Israelyang dimata orang-orang Palestina adalah rumah kematian, mendapat sumbangan dari si Raja Media Amerika, Rupert Murdoch. Siapa tak kenal lelaki dengan nama lengkap Keith Rupert Murdoch itu. Ia mengendalikan jaringan televise The Fox News, studio film Twentieth Century Fox, New York Post di AS, dan The Times di Inggris.

Rupert Murdoch melelang kesempatan untuk makan siang bersama dirinya selama satu jam. Akhirnya terpilih penawar tertinggi. Makan dengan si raja media itu membutuhkan dana lebih dari setengah miliar rupiah. Adalah Bill Zanker, yang memenangi lelang itu membayar Rp 570 miliar untuk sebuah makan siang dengan si raja media.

Kemudian Murdoch menyumbangkan uang hasil lelang itu ke Israel, ke sebuah industri teknologi tingkat tinggiIsrael. Tidak jelas, industri apa itu. Tapi yang pasti, di mata umatIslam, Israeladalah industri kematian. Uang itu tak ada seujung kukunya dibandingkan kekayaan Murdoch. Tapi sepotong waktu dirinya untuk makan adalah industri. Bahkan bila saja itu industri kematian.

Orang-orang berjalan sangat jauh. Tapi entahlah dimana kita. Sedikit bisa kadang berubah menjadi ‘bisa’ yang menyengat. Bila para perusak itu telah mendirikan industri kematian, adakah kita telah bertanya, apa yang telah kita lakukan untuk merintis industri kehidupan?

Iklan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s