Sutra yang Cacat

on

Abu Hanifah adalah seorang pedagang. Barang dagangannya berupa kain dan pakaian. Ia terbiasa menitipkan barang dagangannya kepada Bisyr, pedagang yang berniaga sampai ke negeri Mesir.

Pada suatu hari, Bisyr hendak pergi berniaga ke Mesir. Dan seperti biasa, Abu Hanifah menitipkan barang dagangannya.

“Wahai Bisyr. Aku memiliki kain sutra yang bisa kau bawa ke Mesir,” kata Abu Hanifah.

“Baik. Akan aku bawa kain sutramu,” sahut Bisyr.

Abu Hanifah memberikan kain sutra miliknya kepada Bisyr untuk dijual kembali. Namun setelah diteliti, ternyata ada satu kain sutra yang cacat, di pinggirnya ada sobekan kecil.

“Kain sutra yang cacat ini harganya lebih murah dari yang lain,” pesan Abu Hanifah. “Jangan lupa, kalau ada yang hendak membelinya, beritahukan tentang cacat ini.”

“Baik. Insya Allah akan kuberitahu pembelinya.”

Bisyr pun lalu berangkat ke Mesir bersama kafilah dagangnya. Sesampai di Mesir, barang-barang Abu Hanifah laku sekali. Semua terjual habis, termasuk sutra yang cacat pinggirnya itu.

Bisyr telah kembali dari Mesir. Ia menyerahkan uang penjualan sutra milik Abu Hanifah, setelah mengambil keuntungan untuknya. Abu Hanifah menghitung uang hasil penjualan kain sutranya. Jumlahnya seribu dinar.

“Kain sutra yang cacat itu, kau jual berapa?” tanyanya.

“Sama dengan yang tidak cacat.”

“Kau telah melupakan amanatku. Bukankah aku telah berpesan agar kau menjualnya lebih murah dari yang tidak cacat?”

“Masya Allah, aku lupa!” jawab Bisyr.

“Lalu, apakah kau memberitahukan kepada pembelinya tentang cacatnya kain itu?” tanya Abu Hanifah kembali.

“Tidak. Aku lupa memberitahukannya.”

Bisyr benar-benar lupa dengan pesan yang sampaikan Abu Hanifah. Ia tidak bermaksud untuk menipu pembeli sutra itu dengan barang yang jelek.

“Hartaku telah tercampur dengan sesuatu yang subhat,” kata Abu Hanifah kemudian. Subhat adalah sesuatu yang diragukan halal atau tidaknya.

Akhirnya Abu Hanifah tidak mau menerima hasil penjualan kain sutranya. Ia tidak mau hartanya tercampur dengan sesuatu yang subhat. Ia membagikan seluruh hasil penjualan kain sutranya kepada fakir miskin, hingga tidak tersisa sedikitpun. Bila memakai kurs saat ini, 1 dinar=Rp 2,2 juta, jadi jumlah uang yang akhirnya diinfaqkan Abu Hanifah adalah 2,2 miliar.

 *****

Bagaimana dengan harta Anda? Apakah Anda yakin kehalalannya? Atau adakah subhat di dalamnya? Kalau ada, apa yang Anda lakukan? Masa bodoh atau meniru jejak Abu Hanifah di atas?

Hati-hatilah. Harta adalah satu-satunya hal yang akan ditanya 2 kali oleh Allah di akhirat kelak. Dari mana engkau mendapatkan harta itu dan kemana atau untuk apa kau habiskan harta itu.

Iklan

One Comment Add yours

  1. saritazakka berkata:

    kejujuran memang kunci kebaikan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s