Beda Daerah Beda Maksud

Indonesia yang terdiri dari ratusan pulau, memungkinkan untuk memiliki ratusan budaya, ratusan adat dan ratusan bahasa. Tiap pulau akan memiliki budaya dan bahasa sendiri. Bahkan dalam satu pulau pun bisa terdiri dari berbagai macam adat-budaya dan bahasa.

Dan kita pun harus tahu, budaya tempat kita berada. Karena bisa jadi, gara-gara beda budaya dan bahasa ini akan menimbulkan keributan ataupun kerusuhan.

Seperti yang saya alami waktu ke Jakarta beberapa minggu yang lalu. Ketika perut mulai memainkan konser alamiah untuk menuntut haknya, maka saya segera mencari warung terdekat dengan hotel tempat saya menginap. Dan alhamdulillahnya masih ada yang buka, mengingat waktu itu sudah dini hari.

Dan tanpa basa-basi saya segera memesan nasi dan lauknya. Tak ketinggalan minuman yang cocok untuk mengusir hawa dingin yang mulai terasa, teh panas. Maka tak berapa lama semua pesanan saya pun sudah tersedia di depan saya. Namun alangkah terkejutnya saya ketika menyeruput teh panas pesanan, karena ia terasa hambar alias tidak manis. Barulah saya ingat, bahwa saat itu saya sedang tidak di Semarang. Kalau di Semarang, pesan teh panas akan disediakan teh panas yang berasa manis. Karena di Semarang, teh ‘default’nya adalah ‘manis’. Sedang di Jakarta minuman teh ‘default’nya adalah tawar.

Lain Jakarta lain pula Purbalingga dan sekitarnya (eks-karesidenan Banyumas). Teman kos saya dulu ada yang berasal dari Purbalingga. Yang secara bahasa, beberapa berbeda dengan bahasa saya yang asli wong Jawa. Tahu sendirilah bagaimana dialek Banyumasan, termasuk di dalamnya Tegal.

Waktu teman saya yang dari Purbalingga ini mau keluar untuk membeli kebutuhan sehari-hari, maka saya memesan mie instant (maklum anak kos, tanggal tua lagi). Beberapa saat kemudian dia telepon, “Mie pesanane langka,” ujarnya ketika saya tanya pesanan saya. “Ya, siji wae ora apa-apa (ya, satu juga tidak apa-apa),” jawab saya. Karena menurut sepengetahuan saya langka berarti jumlahnya tinggal sedikit. Tapi apa jawabnya? “Maksude, langka kiye ora nana babar blas (maksudnya, langka itu tidak ada sama sekali),” katanya di seberang sana. Dan saya pun hanya ber-o ria dan minta dibelikan yang lain.

Atau daerah Sunda, yang paling sering menyebut kata mah, atuh, anu. Saya dan beberapa teman diundang kenalan untuk menghadiri pernikahannya di Ciamis. Ceritanya disuruh tampil untuk menghibur tamu undangan (he..he..gini-gini mantan artis lho, biarpun kelas kampung dan kampus). Sebelum pentas, kami dijamu oleh shahibul hajat. “Mangga, di tuang,” katanya. Kami sempat bengong ketika disuruh menuang, lha wong yang ada dihadapan kami nasi beserta lauknya (bayangkan, dini hari disuruh makan). Ternyata maksudnya diminta memakan makanan yang sudah dihidangkan.

Usai pentas pun, ada kejadian yang cukup lucu gara-gara beda bahasa ini. Salah seorang teman ingin mandi di kamar mandi sebuah masjid yang tak jauh dari tempat hajatan. Tapi pintunya ternyata tidak bisa dikunci dari dalam. Akhirnya kami pun diminta untuk berjaga di luar, agar tidak ada orang lain yang masuk. Tak selang berapa lama, ada seorang mbah-mbah yang menghampiri kamar mandi dan sepertinya mau masuk ke dalamnya. Spontan saja kami berseru, “Mbah, taksih wonten tiyangipun (mbah, masih ada orangnya).” Tapi mbahnya tadi malah tersenyum dan tetap nekad masuk. Maka tanpa bisa dicegah simbah pun melenggang masuk ke kamar mandi. Akhirnya terjadi kegemparan dan kehebohan dari teman yang lagi asyik-asyiknya mandi. Dan sekali lagi, barulah kami, saya khususnya, sadar. Bahwa kami sedang tidak berada di ‘rumah’. Salah seorang teman yang bisa bahasa Sunda, sedikit menjelaskan. Kalau orang dalam bahasa Sunda adalah jalma (koreksi kalau saya salah, soalnya sudah lama, jadi mungkin lupa). Kalau tiyang ya seperti tiang listrik, tiang telpon. Pantesan saja, simbahnya senyum-senyum waktu dibilangin “wonten tiyangipun”. Masak ada tiang listrik sedang mandi. Aya aya wae, mungkin itu batin simbahnya waktu itu.

Lain lagi dengan masyarakat Kaliwungu, Kendal. Terutama yang penduduk asli. Pertama dulu ketika saya datang ke Kaliwungu, saya sedikit risih ketika masyarakat dengan vulgar menyebut kata ‘kemaluan’. Namun setelah diberitahu maksud kata ‘kemaluan’, rasa risih itu hilang tergantikan rasa geli.

Anda tahu maksud mereka dengan kata ‘kemaluan’ itu? Makanya pelajari budaya masyarakat sekitar kita, biar tidak nampak ‘kemaluan’ ketika berbicara dan berbuat di daerah lain.

Iklan

One Comment Add yours

  1. marsudiyanto berkata:

    Saya juga “tobat” kalo bicara dengan teman saya yg asli Bralink…
    Banyak istilah yg bisa jadi salah paham
    Banyak sekali…
    Salam!!!


    “Tobat”nya kok pake tanda petik? Artinya apa nih pak? Sy jadi kemaluan.

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s