Tawuran

Tawuran menurut KBBI adalah “perkelahian beramai-ramai; perkelahian massal: tiba-tiba terjadi — antara kedua keluarga yg berselisih itu”

Sumber gambar: bali.panduanwisata.com

Tawuran sendiri, sudah terjadi sejak manusia mengenal kata kelompok. Ia termasuk ‘warisan budaya’ dari para pendahulu. Dan karenanya, kenapa harus dihilangkan atau dicegah?

Bukan tawurannya yang harus dihilangkan, tapi caranya yang perlu diubah. Karena di masyarakat kita juga banyak tradisi ‘tawuran’ yang berkembang dan dipelihara, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Contoh, Perang Api atau Siat Geni yang dilakukan masyarakat Bali dilaksanakan sehari sebelum melakukan upacara besar keagamaan Nyepi. Upacara yang sudah berumur ratusan tahun ini dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Hindu Bali berperan signifikan dalam menjauhkan roh dan jiwa manusia dari segala faktor pengganggu yang sifatnya tak tampak.

Atau Desa Petulu di Bali juga, yang memiliki tradisi “Siat Sambuk” (perang api dengan media sabut kelapa). Tradisi Siat Sambuk ini sudah lama berlangsung di desa Petulu. Siat Sambuk bertujuan untuk menetralisir kekuatan jahat agar naik setingkat lebih baik. Biasanya diadakan pada hari Pengrupukan sehari sebelum Nyepi ketika sandhya kala atau petang.

Untuk itu disini saya tidak akan menulis bagaimana cara mencegah dan mengatasi tawuran, tetapi cara mengubah tawuran anarki menjadi ‘budaya tawuran’ yang menarik sehingga enak ditonton:

1. Dilegalkan
Tawuran yang sering terjadi dikalangan pelajar, seringkali tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Bahkan pihak sekolah sering mengaku tidak terlibat dan bertanggung jawab, bila ada siswanya yang terlibat tawuran.
Untuk itu, agar tawuran menjadi agenda bersama, maka pihak sekolah perlu disertakan dalam tawuran antar pelajar ini.
Sebelum dua pihak pelajar melakukan tawuran, maka kedua belah pihak yang akan tawuran perlu mengajukan ijin terlebih dahulu ke masing-masing kepala sekolah.
Dengan adanya surat pemberitahuan ke kepala sekolah ini, maka bila terjadi apa-apa dalam tawuran sekolah kedua belah pihak juga harus ikut bertanggung jawab.
Juga kegiatan tawuran ini bisa mempengaruhi nilai akademis siswa.

2. Dibuat aturan main
Jatuhnya korban jiwa, baik meninggal atau terluka, dalam tawuran, dikarenakan tidak ada aturan yang jelas. Untuk itu jika ada aturan main tawuran, bisa meminimalisir jatuhnya korban jiwa.
Aturan yang pertama, bisa dilihat di point pertama di atas. Harus sepengetahuan kepala sekolah, guru. Syukur-syukur jika ada surat ijin dari orang tua, ketua RT-RW, kelurahan, kecamatan hingga sampai kepolisian.
Selain itu juga perlu diatur jumlah yang diperbolehkan ikut tawuran. Jumlah kedua tim tawuran harus sama. Jika jumlah tidak sama, maka tawuran harus batal demi hukum.
Juga perlu disepakati tempat tawuran akan diberlangsungkan dan diumumkan lewat media elektronik, media cetak juga media social macam facebook, twitter. Sehingga masyarakat yang ingin menyaksikan bisa ikut meramaikan. Dan hal ini bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat. Soalnya, kalau ada orang kumpul-kumpul, biasanya akan berdatangan para pedagang kaki lima untuk menggelar dagangannya.
Disamping itu juga ditentukan jenis senjata yang digunakan. Semua persenjataan harus terbuat dari bahan-bahan yang tidak bisa melukai lawan main. Yah.. seperti yang dilakukan Sule sama temen-temennya di OPJ (Opera Pan Japa).
Itu beberapa aturan yang bisa dibuat. Dan seperti biasa, bila ada hal-hal yang belum tercantum akan diatur kemudian.

3. Membudayakan kata maaf
Kata maaf merupaka salah satu komponen the magic word, yang sepertinya mulai ditinggalkan.
Jadi dalam tawuran, kata maaf ini perlu. Agar tidak ada dendam diantara peserta tawuran. Kalau dalam olah raga kita mengenal fair play dan menjunjung sportivitas, kenapa ini tidak diterapkan dalam tawuran.

4. Dilombakan
Lomba tawuran ini meliputi koreografi, kostum, juga martial art. Dengan adanya lomba tawuran ini, maka para pelajar akan semakin kreatif untuk menampilkan koreografi yang spektakuler, kostum yang artistic juga martial art yang anggun. Jadi bukan semata-mata pada tawurannya saja.
Bila tawuran ini dilombakan, bukan tidak mungkin akan menjadi daya tarik wisatawan baik domestic maupun manca negara. Dan lagi-lagi, bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

Itulah beberapa hal untuk mengubah tradisi tawuran yang sering terjadi di kalangan masyarakat kita. Bukan saja di kalangan pelajar, mahasiswa pun mulai ikut-ikutan adik mereka. Semua itu terjadi karena mereka mencontoh bapak-bapak mereka yang juga berantem dan berlaku anarki.

Mohon maaf bila tulisan ini tidak sesuai dengan yang diharapkan ataupun tidak menyelesaikan persoalan sebenarnya. Karena semua masalah bisa selesai bila semua pihak saling mawas diri dan menghargai orang lain. Yang muda menghormati yang tua, yang tua menghargai dan memberi contoh kepada yang muda. Pemimpin mampu melindungi dan memberi rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya, rakyat mendukung pemimpinnya untuk membangun kepentingan bersama. Bersama rakyat, bukan bersama partainya, bukan pula bersama kroni, keluarga ataupun koleganya.

Iklan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s