Pahlawan yang Terlupakan

Foto: harianterbit.com
Foto: harianterbit.com

Memasuki bulan November, ada nuansa yang seragam yang bisa Anda dapati. Mulai dari media cetak, media elektronik, ataupun media internet. Tak ketinggalan juga para blogger. Seperti tahun-tahun yang lalu, dan akan terus berulang ditahun yang akan datang. Di bulan November semua mempunyai satu tema: PAHLAWAN. Karena di bulan ini, para Pahlawan kembali ‘hadir’ di tengah-tengah kita. Perlawanan arek-arek Surabaya yang heroic, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan, menjadi hangat kembali. Seolah peristiwa itu baru saja terjadi.

Namun bukannya masblogger ikut-ikutan latah jika kemudian pada postingan kali ini juga membahas masalah pahlawan. Karena bicara tentang pahlawan tidak akan ada habisnya. Pahlawan adalah sosok yang dihormati, dikenang jasa-jasanya. Meski kadang ada juga pahlawan yang tidak pernah disebut dalam sejarah. Bahkan namanya luput dari pemberitaan ataupun pemberian gelar pahlawan. Meskipun saya yakin, mereka para pahlawan itu tak pernah terlintas dalam benaknya ketika meneteskan keringat, menumpahkan darah dan air mata serta meregang nyawa satu-satunya untuk disebut sebagai pahlawan.

Semua orang tentu tahu, siapa Jendral Besar Sudirman. Yang mengobarkan peperangan gerilya yang mampu merepotkan garis pertahanan Belanda. Dan beliau rela hidup dalam keterbatasan, memimpin prajurit pilih tanding. Meski harus memberikan perintah dari atas tandu. Namun pernahkah disebut dalam sejarah, siapa saja yang bertugas untuk memanggul tandu pak Dirman? Atau siapa yang menyuplai bahan makanan pasukan gerilya itu, hingga mereka mampu bertahan selama berbulan-bulan di dalam hutan? Meski amal mereka nyata, namun mereka tak pernah dikenang sebagai pahlawan. Itulah ‘asisten’ pahlawan, yang seharusnya juga disebut pahlawan.

Anda tentu juga tahu, tokoh fiktif jagoan dari kota Gotham, Batman. Kisahnya sampai saat ini tetap dikenal. Tapi orang cenderung tidak perhatian dengan orang-orang disekelilingnya, yang ikut menyokong aksi-aksinya. Sebutlah Robin, si anak camar. Meski ia adalah duet dari manusia kelelawar, jarang orang menyebutnya. Apatah lagi asisten tua yang setia, Alfled. Yang dengan sigap membantu sang jagoan ketika dalam kesulitan.

Dan dalam kehidupan nyata sekarang ini, juga ada ‘asisten-asisten’ yang di depan nama mereka –seharusnya- layak untuk diberikan sebutan pahlawan. Salah satunya adalah asisten rumah tangga. Asisten rumah tangga yang merupakan pengejawantahan dari pembantu rumah tangga, atau dalam bahasa kasarnya disebut babu. Sebetulnya juga layak untuk disebut pahlawan. Tanpa kehadiran mereka, rumah tangga majikannya bisa awut-awutan. Tanpa sentuhan lembut tangannya yang terampil, bisa jadi rumah yang besar magrong-magrong akan kotor dan berantakan. Namun, hanya karena mereka sudah menerima upah (yang kadang jauh dari UMR manapun), peran mereka dinafikan. Sang majikan akan kelimpungan, ketika asistennya pulang kampong, sakit, ataupun minggat gara-gara sudah tidak kerasan. Barulah mereka menyadari akan pentingnya kehadiran seorang asisten di rumah mereka.

Cobalah untuk berhenti sejenak. Dan perhatikanlah sekitar Anda. Maka akan Anda jumpai, banyak ‘pahlawan-pahlawan’ di sekitar Anda tanpa disadari. Keberadaan mereka luput dari perhatian.

Iklan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s