Jangan Pulang!

on

Seorang pemuda ketika berguru di kota Mekkah beliau disuruh oleh gurunya, “Wahai Muhammad pergilah engkau ke Madinah untuk berguru lagi, karena sesungguhnya ilmuku sudah habis, semuanya sudah kuajarkan padamu”. Kemudian, Muhammad menuruti pesan gurunya itu dan berpamitan kepada ibunya.

Berkatalah Ibunda Muhammad, “Nak, pergilah engkau menuntut ilmu di jalan Allah, kita ketemunya nanti di akhirat”. Maka ia pun berangkat ke Madinah mencari guru untuk belajar. Saat itu usianya masih sangat muda.

Di Madinah Muhammad berguru kepada Imam Malik. Tak butuh waktu lama bagi pemuda itu untuk menyerap ilmu dari Imam Malik sehingga semua orang terkagum-kagum dibuatnya, termasuk sang guru yang pada saat itu merupakan ulama tertinggi di Madinah, tampuknya kutub Hijaz, Imam Malik. Ia menjadi murid kesayangan Imam Malik.

Selesai belajar di Madinah Muhammad masih melanjutkan pencarian ilmu ke Irak. Irak saat itu juga merupakan salah satu kutub ilmu islam selain Madinah, karena disana ada Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya.

Jadi pada masa itu terdapat dua kutub ilmu Islam, yaitu kutub Hijaz di Madinah yang mana Imam Malik sebagai mahagurunya dan ada kutub Baghdad dimana Imam Abu Hanifah sebagai mahagurunya.

Berangkatlah Muhammad mengembara ke Irak dan menimba ilmu disana kepada murid-murid Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi. Meski sudah banyak menyerap ilmu di Irak, Muhammad belum ingin pulang, karena belum ada panggilan dari ibundanya.

Di Irak Muhammad berkembang menjadi murid yang terkenal sangat pintar dan tercerdas, sehingga dalam waktu singkat ia sudah diminta untuk mengajar. Satu murid, dua murid, tiga murid sampai ribuan murid berbondong-bondong datang untuk berguru padanya. Hingga ia pun menjadi ulama besar yang terkenal ke seluruh penjuru Irak hingga Hijaz.

Ketika musim haji datang, Ibunda Muhammad selalu menunaikan haji. Suatu ketika di musim haji di Masjidil Haram, ada sebuah pengajian besar yang mana pengajiannya di pimpin oleh seorang ulama besar dari Irak.

Ulama Besar dari Irak ini dalam ceramahnya sebentar-sebentar berkata, “Qoola Muhammad bin Idris….Qoola Muhammad bin Idris” (berkata Muhammad bin Idris).

Ibunda Muhammad yang juga turut mendengar pengajian itu bertanya-tanya, Muhammad bin Idris yang disebut guru besar itu Muhammad bin Idris yang mana? Karena Muhammad adalah anaknya dan Idris adalah nama suaminya.

Maka bertanyalah Ibunya kepada Ulama besar tadi,”Wahai Syaikh maaf saya bertanya, siapakah itu Muhammad bin Idris?”

Dengan bangganya Kyai besar itu berkata, “Dia adalah guruku, seorang ulama besar di Irak yang berasal dari kota Mekkah ini”

Mendengar jawaban itu Ibunya terkejut. Setahu dia tak ada nama Muhammad bin Idris yang berasal dari Mekkah ini selain dari anaknya. Maka ibu Muhammad berkata “Ketahuilah wahai Syaikh, sesungguhnya Muhammad bin Idris adalah anakku”

Mendengar jawaban itu Kyai besar itu pun terkejut, “Benarkah itu, wahai ibu?”.

“Benar wahai syaikh, Muhammad bin Idris adalah anakku,” jawab Ibunda Muhammad.

Maka dia pun hormat kepada Ibu tersebut. Setelah bercerita banyak Syaikh dari Irak tadi pun bertanya, “Lalu apa pesanmu untuknya, wahai ibu?”

“Katakan pada anakku, jika ia ingin pulang ke Mekkah sekarang dia boleh pulang,” jawab sang ibu.

Setelah sampai ke Irak maka pesan pun disampaikan kepada Muhammad, “Wahai Imam, Ibumu berpesan jika Imam ingin pulang ke Mekkah sekarang Imam boleh pulang”

Maka Muhammad pun bergegas ingin pulang. Sudah sangat rindu kepada ibunda tercintanya. Namun disisi lain masyarakat Irak begitu berat melepaskan Sang Imam. Namun dengan berat hati dan perasaan penuh haru mereka pun rela melepaskan sang Imam untuk pulang.

Karena mereka semua cinta kepada sang Imam dan ia merupakan Ulama Besar, maka saat Muhammad ingin pulang mereka banyak sekali memberikan bekal kepada sang Imam, diantaranya banyak yang memberi unta hingga Muhammad mendapat ratusan unta yang mana masing-masing unta terdapat isi bekal dan kekayaan di punggungnya.

Imam Syafii terkejut melihat begitu banyaknya bekal yang diberikan kepadanya. Hampir semua orang Irak memberinya bekal.

Imam Syafii pun pulang menuju Mekkah, sembari di kawal oleh beberapa orang muridnya berikut ratusan unta. Sesampainya di pinggiran kota Mekkah, Muhammad menyuruh salah seorang muridnya untuk menemui ibunya dan mengabarkan bahwa putranya sudah hampir sampai ke Mekkah.

Muridnya pun mendatangi rumah Ibunda Muhammad dan mengetuk pintu. Setelah di buka ibunya bertanya, “Kamu siapa?”

“Saya muridnya anak ibu” jawab murid itu.

“Ada apa?” tanya ibunya

“Gurunda, putra ibu, sedang dalam perjalanan pulang ke sini, dan sekarang sudah berada di pinggiran kota Mekkah” jawab muridnya lagi.

“Apa saja yang di bawa Muhammad, putraku?” tanya ibunya lagi.

Sang murid tersebut dengan bangganya menjawab, “Gurunda datang dengan membawa ratusan unta dan harta”, berharap Ibunya Muhammad menjadi senang mendengarnya.

Bukannya senang, Ibunya malah marah. “Apa? Dia membawa ratusan unta? Aku menyuruh ia berkelana bukan untuk mencari dunia !!!!”.

“Katakan padanya bahwa dia tidak boleh pulang kerumah !!!” tegas ibunya sambil menutup pintu dengan marah. Murid Muhammad pun terkejut.

Maka dengan perasaan yang serba salah, murid tersebut menyampaikan pesan ibunya kepada gurunya. Ketika mendengar pesan tersebut sang Imam gemetar ketakutan.

Muhammad pun memerintahkan kepada muridnya untuk mengumpulkan warga miskin kota Mekkah. Lalu semua unta berikut hartanya di berikan kepada warga Mekkah hingga tak tersisa. Yang tersisa hanya kitab saja.

Maka sang murid tadi pun disuruh kembali menemui sang ibu. Sesampainya di rumah ibunya, murid tadi menceritakan kepada sang ibu bahwa semua unta dan hartanya sudah di bagikan kepada warga Mekkah yang tersisa hanya kitab dan ilmunya saja. Maka Muhammad pun diperbolehkan pulang.

Pemuda itu adalah Muhammad bin Idris bin al Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Assaib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Abdul Muttalib bin Abd Manaf, atau lebih dikenal dengan nama Imam Syafii.

Subhanallah, kisah yang sangat luar biasa bukan dari seorang ulama luar biasa dan ibu yang luar biasa. Semoga kita bisa meneladani kesederhanaan dan kemuliaan beliau dalam menuntut ilmu. []

Iklan

Tuliskan komentar sobat Emha

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s